Minggu, 18 Juli 2010

ijinkan aku mengajakmu berkarya

Duduk dipinggir ruang sekolah yang sederhana, sambil tersenyum memandang anak-anak bermain, dan bercanda. Pandanganku terus mengikuti kemana anakku berlari dan bermain. Sesekali aku bangkit mencoba mendekati anakku, untuk mengingatkan agar ia berhati-hati. Begitulah kegiatanku beberapa tahun silam saat menunggu si bungsuku memulai sekolah di playgroup di kotaku.

Melintas dalam benakku saat–saat itu, aku ingin mendirikan sekolah kecil yang menampung anak-anak, dan belum aku tahu di mana letaknya. Ini baru menjadi khayalanku saat itu. Konsep dan bentuknya belum aku pelajari, aku hanya berpikir bahwa satu saat aku bisa mendirikan sekolah mungil.

Setahun berlalu, selesai sudah anakku bersekolah di playgroup itu. Cita-cita kecil itu belum juga terwujud. Anakku mulai bersekolah di Taman Kanak-kanak, aku baru bisa mempelajari dari kejauhan. Secara tidak sadar, aku banyak terlibat di kegiatan di Sekolah itu, hitung-hitung belajar. Dan terus belajar sampai tiga tahun kemudian.

Tahun 2009 aku di dekatkan dengan pesantren, melihat kehidupan yang berbeda dari kehidupanku selama ini. Ternyata aku ingin di berikan tempat oleh Allah, untuk mewujudkan cita-citaku. Kegiatan pesantren dan pengajian di sana, banyak di lakukkan pada sore hari. Sedangkan pada pagi hari tidak ada kegiatan apapun, karena anak-anak penghuni pondok itu bersekolah di luar lingkungan pesantren.

Disinilah cita-cita itu bermain kembali di benakku, dengan meminta ijin pemilik Pesantren itu akhirnya tekadku terwujud. Ruang garasi kecil dan teras serta halaman, aku sulap menjadi arena yang layak untuk anak-anak bermain, dengan permainan warna cat, serta kertas-kertas warna-warni.

Langkah awal dalam mempersiapkan sudah aku jalani, kami beri nama PLAYGROUP ALIF BABUSSAMAN, kemudian merekrut seorang guru. Semua di persiapkan dengan keadaan yang sederhana, permainan sebagai modal untuk membuat anak-anak senang, kami kumpulkan dari permaian bekas anakku di rumah, dan sebagian lagi kami mendapat sumbangan dari teman.

Tahun ajaran baru di mulai, tapi sekolah mungil itu belum juga berani untuk menerima murid. Kami merasa belum siap saat itu. Sebulan dari tahun ajaran baru di mulai, akhirnya sekolah itu mulai di buka, dua orang anak mulai mendaftar. Dan bulan-bulan selanjutnya anak-anak terus bertambah. Seiring bertambahnya murid, maka kami dari pihak penyelenggara menambahkan juga seorang guru. Sampai pada akhir tahun ajaran kemarin 2010, murid disekolah itu sudah mencapai 17 orang anak.

Dalam setahun berjalan kemarin, Allah beri banyak kemudahan. Dua orang guru yang sabar dan ikhlas menemani anak-anak, dengan honor yang cukup mepet untuk ukuran kehidupan sekarang. Ada perasaan bersalah, karena belum bisa memberi lebih dari itu, karena dana yang ada selain dari orangtua siswa, juga dari mengumpulkan uang jajanku. Aku hanya ingin dengan kesederhanaan, anak-anak dari pinggiran kota Semarang ini bisa mendapatkan pendidikan sejak usia dini. Ada beberapa teman yang bersimpati dengan gerakan sedarhana ini, kemudian mereka membantu baik dalam bentuk buku dan alat tulis dan juga berbentuk dana. Alat permainan luar yang cukup mahal, serasa tak mampu aku dapatkan. Aku mencoba memesan namun dengan kebaikan pembuat maianan luar seperti ayunan dan mangkok putar, kami di beri harga yang sedikit murah dan boleh menyicil.

Kini menginjak tahun kedua, kamipun mendirikan Taman Kanak-kanak, dengan konsep kesederhanaan namun berkreatifitas dan berkarya dengan baik. Tahun ajaran ini, murid PlayGroup ada 9 anak, dan murid TK ada 10anak. Dan yang lebih special lagi Playgroup kami di titipi 1 anak syndrome Hipoteroid dan 1 anak Autis di TK. Karena konsep kami adalaah memberikan pendidikan pada anak sesuai dengan kebutuhannya. Dan untuk anak-anak yang bermasalah dengan keuangan orangtuanya, kami berikan keringanan. Allah Maha Kaya, itu perinsip kami tentang keuangan, walau bukan berarti sekolah ini sekolah gratis. Tidak gratis, karena kami ingin mendidik para orang tua agar termotivasi mencari nafkah dengan baik, demi anak-anak mereka.

Dari semua kemudahan itu, aku yakin Allah telah meridhoi perjuangan kami.
Suport dan doa dari keluarga, teman dan para orangtua, selalu kami mohonkan, agar sekolah ini bisa mewadahi anak-anak dari kalangan menegah bawah bisa belajar dengan nyaman dan berkelanjutan.

Banyak alasan dan motivasi seseoarang untuk berbuat kebaikan, jika Allah sudah mendekaktkan, maka raihlah keinginan-Nya agar menjadi keinginan kita.



Tiada alasan untuk memuji diri sendiri, karena IA yang membimbingku untuk mengajak semua Perempuan-Perempuan untuk bersatu mencerdaskan kehidupan anak negeri ini.

6 komentar:

  1. Horeeeee.... akhirnya kemalasanku untuk menulis terbunuh oleh keinginanku untuk mengajak kaumku untuk berkarya....
    Ayo Perempuan Indonesia, kita mampu berkarya dengan penuh kasih..

    BalasHapus
  2. iya G.. ternyata berjuang itu tidak harus bersusah atau sengsara... berjuang yang ternikmati ternyata lbh asyiiiik...

    BalasHapus
  3. *baca komen teratas*
    sayang aku bukan perempuan.. :P

    BalasHapus
  4. bagus postingannya.. :D main kebogku yah.. :D happy blogging

    BalasHapus